Day 13-Renungan Amsal 31(Proverbs 31 Devotionals)

Proverbs 31:22


IBIS: Ia sendiri yang membuat permadaninya; pakaiannya dari kain lenan ungu yang mewah.

ITB:Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.

CEV: She does her own sewing and everything she wears is beautiful.

MSG: She makes her own clothing and dresses in colorful linens and silks.

AMP: She makes for herself coverlets, cushions, and rugs of tapestry. Her clothing is of linen, pure and fine, and of purple (such as that of which the clothing the priests and the hallowed cloths of the temple were made).

Stacy harus mengakui bahwa ia sangat tidak sesuai dengan ayat ini, terutama kalau sudah berhubungan dengan menjahit! Menjahit bukan sesuatu yang ia sukai, walaupun ia lumayan suka membuat crochet afghans. Bagi anda yang merasa tertuduh karena tidak bisa menjahit pakaian anda sendiri, ingatlah bahwa dimasa wanita ini hidup, menjahit adalah sesuatu yang dilakukan oleh hampir semua wanita. Namun, masa dan budaya telah berubah secara drastis. *)Sejak Revolusi industri, dampak skala ekonomis pabrik telah merubah gaya hidup masyarakat, dari membuat sendiri pakaiannya , kini membeli jadi langsung pakaian jadi lebih menghemat waktu dan uang.*) Tak perlu disebut bahwa menjahit itu sekarang sesuatu yang mahal. Stacy pernah dengar beberapa wanita berkata bahwa lebih baik kita membeli pakaian di obral toko, cuci gudang atau toko factory outlet saja untuk menghemat uang.

Jika kita lihat versi CEV, disebutkan bahwa “everything she wears is beautiful” (apapun yang dikenakannya terlihat cantik). Standar dunia untuk ‘cantik’ adalah segala sesuatu yang terlihat sensual, mempertontonkan belahan dada, paha dan baju yang ketat. Kita akan lihat dengan jelas dalam ayat hari ini bahwa seorang wanita amsal 31 tidaklah mungkin berpakaian demikian.

Dalam Yesaya 61:10 disebutkan bagaimana Tuhan telah mendandani kita dengan pakaian keselamatan, menudungi kita dengan jubah kebenaran seperti seorang pengantin menghiasi dirinya dengan permata. Permata seperti apa? Mungkinkah hal ini berbicara, secara rohani mendandani diri kita dengan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri? (Gal 5:22) Saat melihat ayat-ayat lainnya dari pasal 31 ini, sungguhlah wanita amsal 31 ini seperti demikian digambarkan. Ia sesuai dengan karakteristik buah-buah roh.

Dalam 1 petrus 3:3-4, Petrus berkata bahwa kecantikan kita janganlah berasal dari hiasan luar, seperti memakai perhiasan mahal atau pakaian mewah. Namun, kecantikan kita haruslah berasal dari roh yang lemah lembut dan tentram. Kecantikan jenis ini tidak terusik oleh keadaan, tidaklah mudah menggerutu, mengomel, bersungut-sungut atau lekas marah. Kecantikan ini tidak mengijinkan damai sejahtera yang memerintah di dalam hati kita terusik oleh komentar-komentar orang lain, sehingga merasa kita harus marah untuk membela diri kita saat orang lain menghakimi kita dengan tidak adil.

Stacy membayangkan wanita amsal 31 ini ‘merajut’ pakaian rohaninya, berjalan hari lepas hari dalam kecantikan illahi. Ia mengajarkan kebenaran ini pada putrinya lewat perkataan dan perbuatannya, sebab ini adalah kebenaran yang sangat penting bagi mereka. Kita bisa belajar banyak dari teladannya. Apakah kita mengambil waktu mengajari anak-anak kita berbusana sederhana dan lebih tertarik pada kecantikan batin daripada terbuai oleh kecantikan versi Hollywood? Apakah kita mengajari putra kita kalau gadis yang berdandan tidak senonoh adalah gadis yang harus dihindari seperti menghindari wabah penyakit? Gembala Stacy yang sebelumnya sering mengajar para wanita untuk “berperang”. Inilah pertempuran yang layak untuk kita lakukan---*)berperang terlihat dalam cara berpakaian kita! Apakah seorang prajurit layak perang tanpa baju zirah dan selengkap senjata perang? Tentu tidak! Jika ia berperang memakai baju piyama tentulah lebih baik ia tinggal saja di rumah dan tidur. Apakah seorang wanita yang berpakaian serba terbuka dan sensual layak disebut wanita Allah? Jika kita berperang bagi Allah dalam hal berpakaian yang benar, ini tolok ukurnya: setiap habis berpakaian, lihat dan amati dirimu di depan cermin, apakah ada perasaan damai sejahtera dan nyaman menjalani aktivitas dengan pakaian seperti ini? Jika hatimu sejahtera, melangkahlah dan beraktivitaslah! Jika tidak, ganti pakaianmu! Minta pendapat suamimu sebelum berangkat pergi, apakah anda terlihat “sopan” dan memuliakan DIA? *)

Versi Amplified (AMP) menyebutkan warna ungu, yang melambangkan keningratan, atau kualitas terbaik. Apakah kita menyiapkan pakaian terbaik bagi keluarga kita, atau seadanya saja? Pakaian terbaik bukan berarti menghamburkan banyak uang untuk beli pakaian bermerek. Dalam keluarga Stacy, pakaian yang terbaik berarti yang punya nilai uang terbaik. Putrinya selalu terlihat seakan-akan Stacy telah membelikannya pakaian mewah, namun tidaklah demikian. Contohnya, suatu kali ia melihat pakaian yang seharusnya berharga $75 namun dibeli seharga $5 oleh ibunya. Pakaian itu terlihat mewah dan berkualitas, padahal tidak sepeserpun uang dikeluarkannya!

*) Dulu waktu saya masih kuliah, pernah suatu kali ngobrol dengan teman-teman sekampus yang hobi belanja. Yang satu suka belanja di ITC(toko grosir) dan suka beli baju kalo bisa semurah mungkin dan saat ia mengenakannya tetap terlihat tidak kalah gaya dengan baju yang dibeli di mall…atau dept store… Dia bilang dia merasa sukses dan bangga kalo orang-orang menyangkanya mengenakan baju mahal padahal hanyalah seharga 20ribu. Rahasianya adalah pintar memilih baju yang sesuai dengan bentuk tubuh dan warna kulitnya. *)

Apakah anda mendadani keluargamu dengan pakaian yang terbaik? Apakah anda menghiasi mereka secara roh dengan jubah kebenaran lewat ajaran-ajaran Firman Tuhan?